Breaking News
Loading...
Wednesday, March 26, 2014

Alasan Jokowi Ingin Menjadi Presiden

1395857886460515691
Hanya punya dua mata, tapi kita masih bisa melihat dengan banyak sudut pandang (Gbr: Ask.com)
Hari itu masih pagi. Baru satu jam lebih beberapa menit lewat subuh. Saya sedang berada di Bundaran Hotel Indonesia, karena suasana di tempat itu hanya menarik pada pagi hari saja. Masih sepi, hanya itu alasannya. Saya didekati seorang reporter METRO TV. Ia menanyakan, “Mas, Anda setuju Jokowi jadi capres?” Sontak saya jawab tidak! Dia punya janji dengan masyarakat Jakarta! Meninggalkan posisinya sebagai DKI-1 sama dengan mengkhianati masyarakat Jakarta!
“Think twice!” jika merujuk pesan orang-orang di dunia Barat sana. Pikir dua kali! Jadi saya tidak perlu berpikir “seribu kali”, layaknya pesan populer dalam keseharian, dalam melihat berbagai hal.Berpikir dua kali lebih praktis. Sementara berpikir seribu kali, akhirnya hanya berujung pada lamunan. Seperti itulah saya katakan pada diri sendiri. Maka itu, di tengah derasnya berita pro-kontra di balik keputusan Jokowi maju sebagai calon presiden, saya mencoba berpikir dua kali dalam melihatnya.
Tentu ini bukan pesanan siapa-siapa. Tidak ada yang membayar saya untuk membicarakan ini. Hanya karena masalah ini terbetik juga dalam pikiran saya oleh sebab saban hari, mau tidak mau, suka tidak suka, akan bersua berita-berita eks wali kota Solo tersebut.
Awalnya, saya hanya melihat dari sisi bahwa Jokowi menduduki ke kursi DKI-1 thok karena alasan bahwa dia dipercaya dan dipilih oleh rakyat Jakarta untuk menuntaskan masalah kota ini. Dia sendiri juga menjanjikan hal itu kepada publik Jakarta. Meninggalkan jabatan yang diraih dengan janji dan sekian banyak harapan rakyat tertumpu kepadanya, maka sama dengan mengingkari janji dan mengecewakan orang-orang yang memilihnya.
Cara berpikir saya ini sedikit matematis, bahwa satu tambah satu adalah dua, tak perlu lagi ditanyakan dua itu dari mana. Sementara, jika berbicara dari kacamata ideal, berbagai hal tak cukup hanya melihatnya dengan satu-dua sudut pandang. Toh, realitanya, hidup selalu memiliki banyak sisi. Politik terlebih lagi, itu dunia yang jauh lebih banyak sisi.
Sudut pandang pertama saya itu, jelas merupakan sudut pandang yang sedikitnya senada dengan rival-rival sosok bernama lengkap Joko Widodo tersebut.
Think Twice!
Apakah benar Jokowi meninggalkan posisi sebagai gubernur DKI semata-mata karena kehausannya terhadap kekuasaan, karena libido jabatan lebih tinggi? Kecurigaan ini bisa dimaklumi, akan terbetik di pikiran banyak orang, tak terkecuali saya pribadi, sempat merasakan seperti itu.
Banyak alasan untuk menghakimi, tapi pasti tak sedikit alasan untuk tidak menghakimi.
Maka saya mencoba untuk tidak menghakimi, sebab menghakimi hanya membuat saya menjadikan pikiran saya seperti prajurit yang didoktrin untuk membunuh saja. Mencoba beranjak dari sana, mencari berbagai kemungkinan alasan di balik itu semua. Bukan berdasarkan apa-apa yang disampaikan media, tidak karena retorika yang disampaikan pendukungnya.
Dari sana, saya terbawa pada kesimpulan baru. Kekuasaan kecil maka hanya membuat ruang untuk berbuat pun kecil. Sedangkan Jokowi, saya kira bukanlah tipikal pemimpin yang melihat jabatan sebagai kekuasaan. Ia lebih melihat jabatan sebagai kesempatan untuk berbuat. Apa yang sudah dikerjakan? Saya harus mengakui banyak hal yang sudah dia lakukan.
Tentu, yang sudah dilakukan itu tidak saja hanya pada saat dia menjabat posisi gubernur. Tapi juga di belakang ketika ia menjadi wali kota dan bahkan saat menjadi pemimpin perusahaan meubelnya–yang banyak terekam di berbagai media dan buku-buku.
Di sana menjelaskan bagaimana cara dia bekerja, bagaimana prinsip dia bekerja, dan seperti apa dia. Bagaimana? Ya, dia sudah memperlihatkan sosoknya sebagai pemimpin dengan karakter pekerja. Dia pemimpin yang tidak cerdas bicara. Sebab, logikanya, pemimpin yang cerdas bicara acap kali hanyalah pemimpin yang membiasakan diri untuk bicara, bukan bekerja.
Sebaliknya, pemimpin yang terbiasa bekerja, takkan punya banyak waktu untuk melatih kemampuan bicara. Terlepas, bahwa dalam teori leadership, konon ada keniscayaan pemimpin untuk mampu juga berbicara dengan bagus.
Ya, dia tidak bagus dalam bicara, tapi dia berbicara dengan baik. Ada hal berbeda tentu saja antara bicara yang bagus dengan bicara yang baik. Mereka yang bicara dengan bagus akan terlihat memikat, tapi belum tentu mampu bekerja dengan sama bagusnya.
Sementara berbicara dengan baik, bisa dipastikan takkan terlalu memikat. Karena di sini, bukan soal seberapa memikat seseorang bicara, tapi seberapa baik ia mentransfer pikiran ke dalam kata-katanya, dan nanti bisa dialirkan dengan baik ke dalam pekerjaannya. Di sini, saya kira, Jokowi sudah memperlihatkan kelebihannya di sisi ini.
Ini merujuk pada buku bertitel Nonviolent Communication, A Language of Life-nya Marshall B. Rosenberg, Ph.D. Bahwa, ada ciri seseorang dengan model bicara seperti ini: berbicara dalam bahasa aksi secara jelas, positif, konkret, dan menunjukkan apa yang sebetulnya ia inginkan. Di sini kekuatan Jokowi, berdasarkan pada bagaimana ketika ia bicara di tengah keniscayaan ia bekerja sebagai pemimpin.
Lalu? Think twice! Kesimpulan saya lebih berat ke sudut pandang lain, bahwa dia tak akan secara indah menjelaskan kenapa ia memilih menjadi capres. Ia tidak meminta publik untuk memahami jalan pikirannya. Orang-orang seperti ini takkan meminta siapa-siapa untuk mendapatkan penjelasan dari kata-katanya, tapi dari apa-apa yang dia kerjakan.
Mencoba berpikir positif, saya menduga, keputusan dia menerima dirinya dicalonkan menjadi calon presiden tidak serta merta ia melupakan janjinya saat akan naik sebagai calon gubernur jakarta. Sebagai seorang dengan latar belakang dunia bisnis, ia tahu betul konsekuensi mengingkari janji. Ia tentu sangat paham, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang takkan percaya.
Tapi, apakah betul ia mengingkari janji? Apakah benar ia berlaku lancung?
Di sini dibutuhkan sudut pandang yang bersih dari penghakiman. Tidak tertutup kemungkinan, ia mengangguk untuk dicapreskan karena keinginannya untuk mengabdi kepada masyarakat yang lebih luas. Kesediaannya untuk dicapreskan, karena kemampuan yang ia miliki dalam memimpin bisa dirasakan rakyat lebih banyak. Terlebih, selama ini rakyat telah terlalu lama dikibuli oleh orang-orang yang sesumbar dirinya sebagai pemimpin terbaik, tapi hanya dalam kata-kata, bukan aksi terbaik.
Dia sebagai pemimpin yang berpondasikan aksi dalam kepemimpinannya, ingin agar rakyat bisa memiliki pemimpin yang mengajarkan bekerja, bukan bicara. Maka ia tidak menjelaskan niatnya dengan kata-kata, kenapa saya mengiyakan jadi capres?

0 komentar :

Post a Comment

Followers

Back To Top